Categories
Articles

11 Jenis Ikan Kerapu Termahal di Indonesia

Redaktur: Audri Rianto

Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan yang mendiami laut dangkal, lut dalam bahkan muara sungai. Ikan kerapu tergolong ke dalam ikan predator karena memilikki gigi yang tajam serta rongga mulut yang lebar.

Ikan kerapu juga termasuk ikan yang digemari oleh masyarakat, karena dagingnya yang empuk dan enak. Kandungan gizi ikan kerapu juga sangat baik bagi kesehatan. Maka tak heran jika ikan kerapu memiliki harga yang mahal.

Sumber: sportdiver.com

Ciri Umum Ikan Kerapu

Ikan kerapu memiliki bentuk tubuh yang rendah, moncong panjang agak pipih, maxillary yang lebar pada bagian luar mata serta bintik di bagian kepala. Badan dan sirip ikan kerapu berwarna putih cokelat.

Tidak semua jenis ikan kerapu memiliki ciri yang sama, walaupun kebanyakan terlihat hampir mirip.

1. Kerapu Kerang

Sumber: sportdiver.com

Ikan kerapu kerang sering disebut dengan giant grouper. Nama tersebut diberikan karena ukuran dari ikan kerapu jenis ini yang di atas rata-rata. Karakteristik dari ikan ini adalah tubuh berwarna kuning serta terdapat bulatan hitam pada setiap siripnya.

2. Kerapu Macan

Sumber: sportdiver.com

Ciri khas dari ikan kerapu jenis ini adalah sisinya yang mengkilap serta warna tubuh yang mirip seperti macan tutul. Corak dari ikan kerapu ini juga mirip seperti terumbu karang, sehingga mudah baginya untuk melakukan kamuflase dengan tujuan untuk menangkap mangsa.

3. Kerapu Tikus

Sumber: sportdiver.com

Ikan kerapu tikus memiliki nama lokal sesuai negaranya, seperti di Australia, ikan ini diberi nama Barramundi Cod, di Jepang namanya Sarasa-hata dan di Philipina, Lau-lapu senorita.

Ciri ikan kerapu ini adalah permukaan tubuhnya berwarna putih keabuan serta bagian kepala menyerupai tikus. Ikan ini termasuk ikan kerapu yang paling banyak di budi dayakan oleh nelayan karena ikan kerapu ini memiliki harga yang lumayan mahal.

4. Kerapu Batik

Sumber: sportdiver.com

Ciri ikan kerapu ini ialah warna tubuh dan siripnya kecoklatan pucat. Warnanya yang unik membuat ikan ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Ikan kerapu batik dikenal memerlukan waktu perawatan hingga pemanenan selama 8 bulan.

5. Kerapu Kertang

Sumber: sportdiver.com

Ikan kerapu ini hidup di terumbu karang hingga kedalaman 125 meter dari permukaan air serta dapat bertahan hidup di ekosistem muara. Ikan ini juga banyak ditemukan di perairan Indonesia.

6. Kerapu Catang

Sumber: sportdiver.com

Ikan kerapu jenis ini merupakan hasil persilangan dari ikan kerapu macan dan kerapu kertang. Ciri dari ikan ini adalah memiliki warna kulit yang cokelat kehitaman dengan garis melintang di tubuhnya. Di dalam mulut ikan ini dilengkapi dengan gigi-gigi yang berderet dua baris, dengan ujung gigi yang lancip dan kuat.

7. Kerapu Sunuk

Sumber: sportdiver.com

Kerapu sunuk juga biasa disebut dengan ikan kerapu merah. Ikan ini memiliki warna kulit merah dengan bintik-bintik biru berwarna gelap pada pinggirannya.

Jenis ikan kerapu ini dikenal cukup langka, karena sulit ditemukan dan susah untuk dibudidayakan. Akibatnya, ikan ini memiliki harga yang sangat mahal.

8. Kerapu Lumpur

Sumber: sportdiver.com

Ikan kerapu lumpur hidup di terumbu karang dan muara laut yang berlumpur. Ikan kerapu ini sangat mudah ditemukan, karena termasuk mudah dibudidayakan.

9. Kerapu Muara

Sumber: sportdiver.com

Nama lain ikan kerapu muara adalah ikan kerapu balong. Habitat ikan kerapu muara adalah dekat dengan pantai seperti hutan bakau, terumbung karang dan laut dangkal.

10. Kerapu Kustang

Sumber: sportdiver.com

Ikan kerapu kustang merupakan ikan kerapu hasil persilangan antara ikan kerapu kertang dan ikan kerapu tikus. Harga ikan kerapu kustang tergolong mahal, karena memiliki rasa daging yang enak sehingga banyak orang menyukainya.

11. Kerapu Cantik

Sumber: sportdiver.com

Ikan kerapu cantik juga merupakan hasil persilangan, antara ikan kerapu macan dan ikan kerapu batik. Ikan ini juga tergolong ikan kerapu yang mudah dibudidayakan serta sangat menguntungkan. Menurut pembudidaya, ikan juga termasuk ikan kerapu yang paling cepat masa panennya, harganya juga cukup terjangkau bagi masyarakat sehingga permintaannya cukup banyak.

Categories
Articles

Di Balik Perilaku Seks Para Raja

Seks bukan semata pelampiasan nafsu belaka, tetapi juga mengarah ke tujuan spiritual dan legitimasi kekuasaan.

Oleh Risa Herdahita Putri | 12 Agt 2020

Hubungan seksual para raja bukan sekadar persoalan nafsu. Ada yang menjadikannya cara mendapatkan legitimasi. Ada pula yang berhubungan dengan laku spiritual. 

Filolog dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Universitas Veteran Bantara Sukoharjo, Adi Deswijaya menjelaskan bahwa dalam teks Jawa terdapat Asmaradana. Kata asmara (baca: asmoro)berarti asmara dan dahana berarti api. 

“Api asmara yang dilakukan bangsawan dan raja-raja masa lalu terdapat dalam teks-teks,” kata Adi dalam dialog sejarah “Seks Zaman Dahulu Kala dari Fetish sampai Bestialitas” yang disiarkan langsung melalui saluran Youtube dan Facebook Historia.id, Selasa, 11 Agustus 2020. 

Adi menjelaskan dalam filosofi Jawa, lelaki utama harus memiliki empat hal yaitu curiga (keris), wisma (rumah), wanita (perempuan), turangga (kendaraan), kukila (burung). Maka, seperti dalam Babad Tanah Jawi, kisah api asmara juga berhubungan erat dengan pertunjukkan kekuasaan seorang raja. 

“Di dalamBabad Tanah Jawi banyak cerita tentang asmaradana, api asmara seorang bangsawan zaman dulu, perebutan harta, takhta, dan wanita,” kata Adi.

Seks sebagai Legitimasi

Adi menerangkan bahwa Babad Tanah Jawi ditulis oleh Yasadipura I, pujangga masa pemerintahan Pakubuwana III (1749–1788) dan IV (1788–1820). Itu dilihat dari isi dan urutan ceritanya. 

“Karena bait-bait terakhir Babad Tanah Jawi berkelanjutan di Babad Giyanti yang memang jelas karya Yasadipura I. Babad Tanah Jawi menurut saya zaman Pakubuwana III,” kata Adi.

Contoh kisah api asmara bangsawan dalam Babad Tanah Jawi adalah tentang Sultan Mangkurat Mataram yang merebut Ratu Malang. Padahal, ia sudah bersuami Ki Dalem dan sedang hamil.

Namun, karena kecantikan Ratu Malang, Sultan Mangkurat tak peduli dan tetap ingin memilikinya. Ki Dalem pun dibunuh. Ratu Malang yang sedih ikut meninggal. Jenazahnya dibiarkan di dalam keraton, tidak langsung dikebumikan oleh sultan.

“Akhirnya sultan bermimpi kalau Ratu Malang sudah bertemu Ki Dalem. Baru sultan mau memakamkan,” kata Adi. 

Di Babad Tanah Jawi juga ada kisah raja yang berhubungan dengan makhluk halus, seperti cerita Panembahan Senopati dengan Ratu Pantai Selatan. Ada juga kisah Jaka Tarub dan bidadari Nawang Wulan. 

Menurut Adi, seorang raja bisa memperoleh legitimasi kekuasaan dari keahlian bercinta. Termasuk dengan makhluk astral, sebagaimana cerita Panembahan Senopati. 

“Tampak adanya legitimasi untuk menaikkan kharisma dan wibawa raja yang absolut, bahwa apa-apa yang diminta harus dituruti. Meski seorang raja juga harus berbudi luhur,” ujar Adi.

Dalam konsep kekuasaan Jawa, menurut Adi, selain didorong nafsu, perempuan yang diinginkan raja biasanya memiliki pengaruh secara politik. Namun, tak selamanya raja yang lebih dulu menginginkan perempuan. Ada kasus ayah atau rakyat justru yang memberikan anaknya kepada rajanya.

“Karena rakyat merasa itu anugerah jika anaknya bisa menjadi selir raja,” kata Adi. 

Ada persepsi pula memiliki banyak selir menyimbolkan kekuatan seorang raja. “Kembali ke filosofi Jawa, lelaki utamanya harus memiliki curigawismawanita, turangga, dan kukila,” lanjut Adi.

Seks sebagai Laku Spiritual

Dalam tradisi Jawa, seks bukan cuma mengejar kenikmatan semata. Seks menjadi laku spiritual yang harus sesuai dengan ketentuan Tuhan. 

Itu tercermin dalam Serat Centhini, karya bersama para pujangga Keraton Surakarta di bawah arahan Pakubuwono V ketika masih menjadi putra mahkota. Serat ini selesai pada 1814.

Ceritanya, setelah menikah, Syekh Amongraga dan Ken Tembangraras tak langsung melakukan persetubuhan. Mereka menunggu selama 40 hari baru melakukan persetubuhan.

Seks dalam tuntunan Jawa intinya adalah kesabaran. “Dalam Centhini kenapa harus menunggu 40 hari, karena ujung-ujungnya spiritual,” kata Adi. 

Uniknya, Serat Centhini juga memuat interaksi seksual dari berbagai orientasi. Bahkan, dikisahkan pula perilaku bestialitas yakni berhubungan seksual dengan kuda. 

“Dalam bentuk ilham melalui mimpi Ki Kulawiryo untuk penyembuhan Nuripin yang mengalami sakit raja singa atau sipilis,” kata Adi.

Model penceritaan dalam Serat Centhini itu berhubungan dengan proses penciptaan naskah. “Dalam Serat Centhini, Pakubuwana V yang waktu itu putra mahkota berusaha menampilkan karya sastra berisi fenomena negatif dan positif di Jawa, tapi terkait agama juga ajarannya,” ujar Adi.

Sebelum memprakarsai Serat Centhini, Pakubuwana V membaca Serat Wulangreh warisan ayahnya. Di dalamnya hanya berisi ajaran agama.

“Kalau begini tak akan menarik. Jadi ia membuat suatu metode pengajaran agar yang baca tidak bosan. Lewat jalan cerita kemudian dalam bentuk tembang,” kata Adi.

Pakubuwana V memerintahkan tiga orang, yaitu Raden Ngabehi Ronggosutrasno, Yasadipura II, dan Raden Ngabehi Sastradipura. Ronggosutrasno diperintahkan memeriksa daerah Jawa bagian tengah ke timur. Ia menyusuri wilayah utara ke timur, lalu ke selatan hingga kembali ke tengah. 

“Apa yang dilihat dan diketahui selama perjalanan itu disuruh dicatat,” kata Adi. 

Yasadipura diperintahkan mengamati Jawa bagian tengah ke barat. Ia menyusuri wilayah utara ke barat, lalu ke selatan kembali ke Jawa Tengah. Ia juga disuruh mencatat apa saja yang ditemuinya.

Terakhir, Sastradipura diperintahkan naik haji ke Makkah untuk mempelajari ilmu agama. Setelah kembali, ia mencatat bagian keagamaan dari Serat Centhini. Ia akhirnya berganti nama menjadi Muhammad Ilhar. 

Karena isinya begitu luhur, banyak pujangga dan sastrawan Jawa kemudian mutrani (duplikasi) kembali Serat Centhini. Contohnya Masalah Saresmi dan Kawruh Sanggama. 

Masalah Saresmi berisi ajaran Rasul kepada anaknya Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di antaranya adalah larangan dan tuntunan bersenggama. 

Nggak boleh tanggal pertama dan terakhir bulan. Nggak boleh hari Minggu dan Rabu. Jangan matikan lampu, akan berakibat anaknya bodo, celaka, menjadi durjana, dan sebagainya,” kata Adi. 

Sedangkan Kawruh Sanggama merupakan ajian asmaragama yang didapat Batara Guru dari Sang Hyang Tunggal dengan bertapa. Karena sebelumnya ia memiliki empat putra yang wataknya tidak baik. 

“Kemudian menggunakan ajian asmaragama akhirnya punya anak Sang Hyang Wisnu,” kata Adi. 

Kawruh Asmaragama mengatur sikap dan tata cara dalam melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut istilah sanggama, karonsih, saresmi dan istilah lain dalam Jawa yang didasari watak lilanarimatemen, dan sabar akan dapat menghasilkan hakikat kebenaran sejati pasangan. 

“Semua perbuatan haruslah didasari ilmu. Ilmu dapat menuntun kita ke arah hal positif,” ujar Adi.

Karena isinya begitu luhur, banyak pujangga dan sastrawan Jawa kemudian mutrani (duplikasi) kembali Serat Centhini. Contohnya Masalah Saresmi dan Kawruh Sanggama. 

Masalah Saresmi berisi ajaran Rasul kepada anaknya Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di antaranya adalah larangan dan tuntunan bersenggama. 

Nggak boleh tanggal pertama dan terakhir bulan. Nggak boleh hari Minggu dan Rabu. Jangan matikan lampu, akan berakibat anaknya bodo, celaka, menjadi durjana, dan sebagainya,” kata Adi. 

Sedangkan Kawruh Sanggama merupakan ajian asmaragama yang didapat Batara Guru dari Sang Hyang Tunggal dengan bertapa. Karena sebelumnya ia memiliki empat putra yang wataknya tidak baik. 

“Kemudian menggunakan ajian asmaragama akhirnya punya anak Sang Hyang Wisnu,” kata Adi. 

Kawruh Asmaragama mengatur sikap dan tata cara dalam melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut istilah sanggama, karonsih, saresmi dan istilah lain dalam Jawa yang didasari watak lilanarimatemen, dan sabar akan dapat menghasilkan hakikat kebenaran sejati pasangan. 

“Semua perbuatan haruslah didasari ilmu. Ilmu dapat menuntun kita ke arah hal positif,” ujar Adi.

Karena isinya begitu luhur, banyak pujangga dan sastrawan Jawa kemudian mutrani (duplikasi) kembali Serat Centhini. Contohnya Masalah Saresmi dan Kawruh Sanggama. 

Masalah Saresmi berisi ajaran Rasul kepada anaknya Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di antaranya adalah larangan dan tuntunan bersenggama. 

Nggak boleh tanggal pertama dan terakhir bulan. Nggak boleh hari Minggu dan Rabu. Jangan matikan lampu, akan berakibat anaknya bodo, celaka, menjadi durjana, dan sebagainya,” kata Adi. 

Sedangkan Kawruh Sanggama merupakan ajian asmaragama yang didapat Batara Guru dari Sang Hyang Tunggal dengan bertapa. Karena sebelumnya ia memiliki empat putra yang wataknya tidak baik. 

“Kemudian menggunakan ajian asmaragama akhirnya punya anak Sang Hyang Wisnu,” kata Adi. 

Kawruh Asmaragama mengatur sikap dan tata cara dalam melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut istilah sanggama, karonsih, saresmi dan istilah lain dalam Jawa yang didasari watak lilanarimatemen, dan sabar akan dapat menghasilkan hakikat kebenaran sejati pasangan. 

“Semua perbuatan haruslah didasari ilmu. Ilmu dapat menuntun kita ke arah hal positif,” ujar Adi.

Categories
Articles

Perempuan dan Pendidikan: Implementasi Pemikiran Kartini

Canty Nadya

https://suaraperempuanpesada.wordpress.com

“Jika anda mendidik seorang laki-laki berarti anda telah mendidik seorang person, tapi bila anda mendidik seorang perempuan berarti anda telah mendidik seluruh anggota keluarga.”

Pendidikan dan perempuan, kedua elemen yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. Sistem pendidikan jika tak menyertakan perempuan maka itu bukan esensi pendidikan, karena pendidikan adalah bagimana menciptakan keadilan yang humanis. Karena dengan mengalienasi perempuan dari pendidikan, maka sama halnya dengan melanggengkan kebodohan untuk dominasi kekuasaan pada segelintir mahkluk.

Salah satu permasalahan yang dianggap paling berat untuk perempuan ialah rekognisi pendidikan untuk perempuan, realitas yang umum kita jumpai perempuan selalu dipandang sebelah mata. Karena pendidikan untuk perempuan tak diterapkan secara fundamental, hanya sebagai formalitas semata atau lebih parahnya jika pandangan bahwa pendidikan untuk perempuan seharusnya tak diberikan sama sekali, agar tunduk pada sistem dan semakin terkungkung dalam penindasan.

Pemikiran akan pentingnya pendidikan untuk perempuan tak hanya dilayangkan oleh para pemikir Barat saja, namun dalam konteks Indonesia, ada pemikir serta pegiat perempuan lokal yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan secara layak,dia adalah R.A. Kartini. Kartini menuangkan pemikirannya dalam surat-surat yang dikirimkan kepada J. H. Abendanon. Kumpulan surat pribadi Kartini tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1912 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang­­). Kumpulan surat Kartini tersebut menjadi sebuah alternatif pemikiran tentang pendidikan perempuan. Sebagai sebuah kritik sosial pada realitas, bahwasanya perempuan juga perlu pendidikan. Salah satu pokok substansi pemikiran Kartini adalah Emansipasi atau upaya mewujudkan kesetaraan perempuan dalam mendapatkan pendidikan.[1]

Kedua pernyataan tersebut dapat digunakan sebagai acuan tentang peran perempuan dalam hal pendidikan, bagaimana institusi pendidikan dan lingkungan memberikan hak kepada perempuan untuk memperoleh pendidikan dengan sepenuhnya tanpa ada intrik sosial. Perempuan jangan lagi mengalami ketertinggalan perihal pemikiran dan pengetahuan. Karena aspek pendidikan untuk perempuan berpengaruh pada segala bidang, bahkan jika seorang perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga, diperlukan pula pembekalan akan hal tersebut. Pendidikan bukan hanya milik perempuan yang memiliki akses ekonomi atau strata sosial menengah ke atas, melainkan dapat dinikmati oleh seluruh perempuan secara merata, itulah arti kesetaraan itu sendiri.

Pentingnya Pendidikan Bagi Perempuan

Perempuan memiliki peranan yang sangat penting dalam hal pendidikan, bahkan pendidikan pertama yang diberikan kepada anak ialah dari seorang ibu. Ibu memiliki andil yang besar dalam melakukan pengembangan potensi anak. Bukan berati tugas mendidik hanya diberikan kepada ibu semata, ayah juga berpengaruh terhadap proses pendidikan anak, namun tidak seotentik seorang ibu. Karena ibu memiliki keterikatan batin yang kuat dengan anak. Ada sebuah pepatah yang mengatakan jika perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa pendidikan akan berpengaruh dalam pola pikir dalam berkeluarga, cara mendidika anak dan menerapkan prinsip-prinsip keadilan di keluarga.

Kartini dapat dikatakan sebagai tokoh pembaru di bidang pendidikan perempuan, yang memiliki terobosan dalam mengajarkan pentingnya arti pendidikan bagi perempuan. Perjuangannya tersebut berhasil memberikan perubahan bagi perempuan menuju pemikiran yang lebih maju. Bahwa semestinya perempuan juga harus memiliki peranan penting dalam lingkungan sosial mereka.

Sukarno kemudian menafsirkan perempuan dalam sepenggal kalimat “Perempuan itu tiang negeri,”[2] dalam konteks kalimat dari Sukarno tersebut, maka seharusnya perempuan sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban bangsa yang berkemajuan. Sedangkan alat untuk menjalankannya ialah pendidikan, jika perempuan mendapatkan pendidikan yang baik, maka jangan heran jika sebuah negara atau institusi di mana perempuan itu berpijak akan mengangkat martabat bangsa.

Pendidikan bukan hanya berkaitan soal mengasah akal dan tingkat intelektual saja, namun juga memperhatikan kepribadian. Kartini mengatakan jika pendidikan bukan hanya mempertajam akal, budi pekerti pun juga harus dipertinggi. Intinya ialah dalam menjalankan sistem pendidikan, tidak hanya mengutamakan tingkat kecerdasan semata, namun juga menanamkan budi pekerti pula. Jika hanya mengunggulkan sisi kecerdasan tanpa memperhatikan hal yang lain, maka yang terjadi ialah rasa superioritas dan rendahnya sikap kemanusiaan.[3]

Pendidikan diberikan bukan hanya dalam lembaga formal saja, namun juga diperlukan bimbingan pendidikan non formal. Pendidikan formal tidak sepenuhnya berjalan baik jika tidak diiringi oleh pendidikan non formal yang berupa peranan keluarga dan lingkungan dalam penerapan pendidikan. Joesoef Sulaiman dalam Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah mengemukakan[4]:

“Di dalam keluargalah anak pertama-tama menerima pendidikan, dan pendidikan yang diperoleh dalam keluarga ini merupakan pendidikan yang terpenting atau utama terhadap perkembangan pribadi anak.”

Keluarga adalah elemen terpenting dalam pembentukan dan pengembangan karakter seorang anak. Itulah sebabnya penekanan pendidikan kerap kali diberikan pada pendidikan non formal atau keluarga. Karena keluarga berperan sebagai pendidik. Hal ini berkaitan pula pada penjelasan tentang peran perempuan untuk memberikan pendidikan pada generasi selanjutnya.

Hambatan Penerapan Pendidikan Pada Perempuan

Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan terhadap perempuan masih tergolong rendah, tak jarang hal tersebut terjadi pada perempuan itu sendiri. Terkadang perempuan masih terjebak pada zona nyaman yang tak jauh dari dunia gemerlap, terdapat faktor internal dan eksternal sehingga menyebabkan pemikiran yang rabun akan dunia pendidikan. Salah satunya ialah faktor ekonomi yang mengharuskan perempuan tak dapat merasakan senangnya hidup dalam dunia pendidikan.

Di lain sisi, perempuan masih mengalami tindakan represif yang didasari oleh interpretasi agama yang cenderung dimaknai secara konservatif dan cenderung bias gender. Pemikiran tersebutlah yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam konteks pendidikan bagi perempuan. Salah contohnya ialah kisah Malala Yousafzai yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas idealismenya, dia memperjuangkan agar perempuan muda di Pakistan mampu mengenyam bangku pendidikan. Karena dalam budaya setempat, perempuan yang berpendidikan ialah monster dan tidak sesuai dengan budaya setempat. Situasi yang sama juga dirasakan perempuan Margdarshi dari India atau perempuan muda sub-Sahara Afrika yang terpaksa berhenti sekolah karena mengalami menstruasi dan terjadinya olokan yang tumbuh karena faktor menstruasi, serta sulitnya menapatkan pembalut yang menyebabkan mereka untuk merelakan pendidikan.[5]

Sedangkan di Indonesia sendiri, terdapat faktor ekonomi yang menjadi salah satu faktor ketertinggalan perempuan untuk merasakan pendidikan. Pada Mei 2017 lalu, Sanita gadis yang berasal dari Jawa Tengah yang akan dinikahkan orang tuanya pada usia yang cukup belia yakni 13 tahun, atas dasar kesulitan secara ekonomi. Namun ia menolak dan mengatakan:

“Jika Bapak dan Ibu menghentikan pernikahan ini dan membiarkan saya melanjutkan pendidikan, saya akan membayar seluruh biaya yang Bapak dan Ibu habiskan buat saya. Jika Bapak dan Ibu memaksa saya menikah, maka saya tidak akan punya apa-apa lagi,” (Kutipan dari Tirto.id, Kerikil Tajam Dunia Pendidikan).

Alasan lain menyebutkan bahwa adanya intervensi atau campur tangan antara urusan rumah tangga dan pendidikan, ketika perempuan ingin melanjutkan studi yang lebih tinggi. Maka akan ada hambatan yang menjelaskan bahwa pernikahan menjadi urusan utama daripada studi, jika merujuk pada kasus Sanita. Dalam konteks budaya yang umumnya kita jumpai di masyarakat Jawa, ada sebuah ungkapan seperti, lebih baik menikah di usia dini daripada harus menjadi perawan tua karena mementingkan studi, begitu kasarannya.

Padahal jika diteliti, semangat untuk berpendidikan makin lama kian pudar seiring dengan hambatan-hambatan yang terjadi. Jikalau menikah dibarengi dengan studi, maka perempuan akan mengalami peran ganda dan mengharuskan perempuan untuk bekerja keras untuk melakukan penyeimbangan, dalam konteks sosial yang masih berlutut pada pemikiran gender konvensional. Seperti pemikiran yang mengungkapkan bahwa suatu hal yang wajar jika laki-laki bekerja atau memperoleh segala impiannya, baik melakukan pengembangan diri ataupun melanjutkan studi, bukan mengurusi perkara domestik.

Kondisi lain mengatakan masih banyaknya pelecehan terhadap perempuan pada dunia pendidikan. Menurut penelitian Settles, dkk (2006) Sebagaimana dikutip dari Tirto,id, mengungkapkan jika pelecehan seksual terhadap perempuan di kampus terjadi sekitar 36–44 persen. Seperti yang dituliskan pada jurnal Psychology of Women Quarterly, dari meta-analisis 71 studi, sebesar 58% perempuan pernah mengalami pelecehan pada ranah akademis.[6]

Di samping itu perempuan juga masih sering terjadi diskriminasi gender pada ruang dan upah kerja. Terlebih lagi hal tersebut terjadi jika berasal dari kelompok minoritas, dalam penelitiannya Settles, dkk menemukan adanya diskriminasi pada perempuan kulit hitam yang mempengaruhi psikis dari perempuan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari hasil penemuan Settles, dkk yang mengatakan jika perempuan kulit hitam memiliki intensitas kepuasan kerja lebih minim daripada perempuan kulit putih. Penurunan kepuasan kerja tersebut, dilatarbelakangi oleh diskriminasi yang secara tidak langsung memicu tekanan dalam bekerja.

Perempuan masih mendapat tekanan yang beranggapan bahwa kurangnya tingkat produktivitas daripada laki-laki, sekalipun ia dapat menyangkalnya dengan kinerja yang dia berikan. Sehingga lambat laun akan menyebabkan pemudaran pada tingkat kepercayaan dirinya untuk melakukan berbagai tindakan. Padahal sebetulnya, perempuan berpengaruh besar pada setiap proses kehidupan.

Proses diskriminasi, pelecehan hingga tindakan yang cenderung merisak perempuan, merupakan realitas yang kita jumpai sekarang. Problem dari hambatan pendidikan ialah budaya patriarki yang masih dominan, sehingga turut mempengaruhi corak kebijakan terkait pendidikan. Selain itu terdapat diskriminasi secara budaya, di mana perempuan ditemptkan dalam subsistem di bawah laki-laki, hak-haknya dipinggirkan dan dikesampingkan.

Maka perlu ditekankan jikalau kurang meratanya pendidikan terutama untuk perempuan, tidak hanya diakibatkan oleh faktor ekonomi namun juga ada pengaruh dari budaya. Padahal berpuluh-puluh tahun yang lalu Kartini mengajarkan pentingnya emansipasi terhadap perempuan, minimal melalui pemberian akses pendidikan secara meluas. Namun dalam praktiknya masih belum berjalan maksimal, sehingga perempuan masih terkungkung dalam sangkar emas.

Categories
Articles

Selasar Sunaryo

Art Space

www.selasarsunaryo.com

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) adalah sebuah ruang dan organisasi nirlaba yang bertujuan mendukung pengembangan praktik dan pengkajian seni dan kebudayaan visual di Indonesia. Dididirikan pada tahun 1998 oleh Sunaryo, SSAS aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada edukasi publik. Dengan arahan & dukungan dari Yayasan Selasar Sunaryo, fokus utama SSAS adalah pada penyelenggaraan program-program seni rupa kontemporer, melalui pameran, diskusi, residensi & lokakarya.

Sebagai pusat kebudayaan, SSAS menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan disiplin-disiplin seni lain seperti desain, kriya, seni pertunjukan, sastra, arsitektur, dan lain sebagainya. Selain memajang koleksi permanen, SSAS juga menyelenggarakan pameran-pameran tunggal atau bersama yang menampilkan karya-karya para seniman muda dan senior, dari Indonesia maupun mancanegara.

Semua jenis kegiatan di SSAS—mencakup program anak-anak, konser musik, pementasan tetaer, pemutaran film, pembacaan karya sastra, ceramah dan berbagai aktivitas lainnya—dirancang berdasarkan arahan dari Dewan Pertimbangan Kuratorial yang terdiri dari para akademisi, kritikus dan praktisi seni. SSAS juga berkiprah dalam jejaring seni rupa kontemporer internasional melalui kerjasama dengan berbagai insitusi di luar negeri.

Categories
Articles

Museum Geologi

http://museum.geology.esdm.go.id/profil/sejarah

SEJARAH SINGKAT MUSEUM GEOLOGI

Keberadaan Museum Geologi sangat erat kaitannya dengan sejarah penyelidikan geologi di Indonesia yang telah dimulai sejak 1850-an. Pada saat itu, lembaga yang mengkoordinasikan penyelidikkan geologi adalah “Dienst van het Mijnwezen”. Museum Geologi untuk pertama kalinya diresmikan pada saat pembukaan gedung “Dienst van den Mijnbouw” yaitu pada 16 Mei 1929. Peresmian ini bertepatan dengan pembukaan kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung. Gedung ini berfungsi sebagai perkantoran yang dilengkapi dengan sarana laboratorium geologi dan museum untuk menyimpan dan memperagakan hasil survei geologi.

Gedung Museum Geologi (1929) di Rembrandt Straat (sekarang Jl. Diponegoro, Bandung).

Sejalan dengan dinamika sejarah, secara kelembagaan Museum Geologi terus mengalami perubahan. Pada zaman pemerintahan Belanda (1929-1941), Museum Geologi disebut Geologisch Laboratorium dan merupakan unit kerja dari “Dienst van het Mijnwezen” yang berganti nama menjadi “Dienst van den Mijnbouw”.

Kemudian pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945). “Dienst van den Mijnbouw” diganti namanya menjadi “Kogyoo Zimusho” yang kemudian berganti nama menjadi “Tisitutyosazyo” dimana Museum Geologi sebagai bagian dari Laboratorium Paleontologi dan Kimia.

Peserta Konferensi Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4

Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978-2002). Pada 2003 Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi (UPT MG), di bawah usat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Pada 2013, berdasarkan Permen ESDM No. 12 Tahun 2013, Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi (UPT MG), di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.orium Paleontologi dan Kimia.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, pengelolaan Museum Geologi berada di bawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG, 1945-1950) institusi ini berganti nama menjadi Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), berganti nama lagi menjadi Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978-2002). Pada 2003 Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi (UPT MG), di bawah Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Pada 2013, berdasarkan Permen ESDM No. 12 Tahun 2013, Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi (UPT MG), di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.

s1
Categories
Articles

Peranan Museum Bagi Masyarakat Masa Kini

Oleh: Siti Khoirnafiya

Direktorat Permuseuman

Neverthless, as museum are repositories of cultural relics, educacted people and moreover have a mission to impart cultural informations to society. They need to be arranged in ways that are most coommunicative for their respective target visitor.

Pemahaman Kebudayaan Melalui Museum

Masyarakat dan kebudayaan adalah ibarat mata uang yang satu sisinya berupa ungkapan sistem sosial dan sisi lainnya adalah sistem budaya. Interaksi alam fisik dan manusia melalui masa dan ruang membina pelbagai insitusi sosial dan budaya yang selaras dengan keperluan hidup masyarakat, sedangkan pelbagai insitusi sosial dan budaya adalah respon manusia untuk menyelesaikan pelbagai masalah dan memenuhi desakan hidup sambil bersedia menghadapi tantangan mendatang. Bahan-bahan dari segala macam institusi sosial tidak hanya dilihat sebagai himpunan warisan masa lampau,. Tetapi petanda dinamika dan sumber daya yang mampu beradaptasi dengan desakan, baik dalam maupun luar sistem sosial budaya itu sendiri.

Aspek kebudayaan masyarakat secara universal dapat diamati kehadirannya di setiap masyarakat. Kebudayaan adalah wujud daya cipta, rasa, dan karsa manusia. Kebudayaan adalah hal penting yang menghubungkan manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan juga menjadi blue print atau pedoman bagi manusia. Dengan kebudayaan inilah manusia tampak berbeda dengan binatang. Dengan kebudayaan, manusia dapat bertahan dan melangsungkan hidupnya.

Ada beberapa cara kita dapat mengetahui kebudayaan masyarakat. Salah satu cara yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk mengetahui gambaran kebudayaan masyarakat setempat adalah dengan datang ke museum. Hal itu karena di museumlah mereka dapat melihat gambaran tentang sebuah peradaban budaya daerah, baik zaman purbakala maupun di zaman modern.

Perkembangan museum di Indonesia saat ini dapat dikatakan cukup bagus, tetapi tentu memerlukan peningkatan-peningkatan agar Indonesia sebagai bangsa yang menghargai hasil karya pendahulunya dan melestarikan warisan budaya leluhur sehingga museum sebagai fasilitator masyarakat dengan peradaban budaya dapat diwujudkan. Museum juga diharapkan mampu menjadi mediator yang tidak membedakan kebudayaan antardaerah, tetapi tercipta peradaban yang multikultural, yaitu menjadikan perbedaan budaya menjadi suatu warna yang meramaikan khasanah kebudayaan bangsa sebagai identitas bangsa. Itulah peran museum. Lalu, seberapa besarkah peran museum saat ini?

Museum diharapkan tidak hanya sekedar memantulkan perubahan-perubahan yang ada di lingkungan, tetapi juga sebagai media untuk menunjukkan perubahan sosial serta pertumbuhan budaya dan ekonomi. Museum berperan dalam proses transformasi yang mewujudkan perkembangan struktur intelektual dan tingkat kehidupan yang membaik. Perkembangan tersebut tentu disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang bersangkutan dalam bahasa dan budayanya masing-masing. Inilah makna yang ingin disampaikan dan di transkripsikan oleh museum lewat benda yang disajikan atau dipamerkan sebagai instrumen memahami masyarakat pendukungnya.

Museum dalam bentuk apapun, baik secara ilmiah, seni maupun sejarah tentu tidak sekedar dibicarakan dalam artian teoritis semata. Museum diharapkan berarti praktis yang dapat diimplementasikan dengan kisaran jumlah publik yang tidak sedikit. Dengan demikian, bicara mengenai museum sebagai media komunikasi massa harus mendapatkan klaim dari semua golongan masyarakat. Museum tidak hanya diklaim menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi sangat perlu didukung oleh para akademisi, peneliti, bahkan pengusaha. Jadi, peran museum diharapkan dapat mendukung pembangunan nasional, pembangunan masyarakat seluruhnya dan seutuhnya. Kita harus terus ingat bahwa pembangunan ataupuin modernisasi bukan sekedar know what, tetapi proses know how.

Apa yang patut segera dilakukan agar museum berperan demikian? Museum tidak boleh menjadi lembaga yang pasif, tetapi sebaliknya museum harus peserta aktif dalam pembangunan. Bisa diungkapkan atau menggunakan slogan museum –out-reach goal dengan bahasa bahwa apabila publik tidak datang ke museum, maka museumlah yang datang ke publik. Museum harus mampu menghadapi tantangan global di mana kontak antarbudaya tidak dapat dielakkan, termasuk berani menghadapi ‘image” museum yang dianggap kuna dan antik, kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Mengubah image ibarat pepatah Bagai Mengubah Tekuk, yang berarti mengubah kebiasaan tidaklah mudah, tetapi yakinlah bahwa jika itu dilakukan terus menerus dilakukan akan berhasil ibarat pepatah Belakang Parang pun Kalau Diasah Akan Tajam.

Berperan dalam Memerankan Peran Museum

Benda-benda koleksi yang dipamerkan harus dirancang sedemikian rupa termasuk menunjukkan adanya isu-isu masa kini yang berjalan dengan fakta sejarah. Kegiatan yang dilakukan di museum tidak sekedar melihat benda koleksi yang indah, tetapi bagaimana agar yang datang ke museum pulang tetapi ingin kembali datang ke museum karena museum dianggap mempunyai daya tarik tersendiri. Ada yang mem buat saya cukup bangga saat ini, sudah cukup banyak pengelola museum yang membolehkan museumnya digunakan untuk acara-acara kegiatan kemasyarakatan, melakukan seminar untuk mengasah intelektual, dan yang terpenting museum tidak digunakan untuk sebagian kecil orang saja.

Paradigma tersebut tentu agak kontraversial dengan pemikiran terdahulu yang melihat museum sebagai tempat yang dipenuhi roh-roh leluhur yang menyeramkan. Pada hakikatnya museum dapat bersifat profan pada batas-batas tertentu tanpa harus menghilangkan nilai sakral yang berada di dalamnya jika itu memang yang sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Pengelola museum tak perlu merasa terbebani dengan peran museum yang meluas, tidak sekedar menjadi tempat barang-barang sejarah itu diletakkan, karena ada yang lebih penting dari itu yaitu bagaimana nilai sejarah dari benda itu dapat tersampaikan kepada masyarakat.

Dengan demikan, tentu museum bukanlah komoditas privat bagi sebagian orang, tetapi milik masyarakat bersama yang ingin mengetahui dan mendapatkan kepuasan mendalam dan kenikmatan dengan datang ke museum. Museum dapat menjadi media yang efektif untuk menyajikan proses pembangunan hasil-hasilnya dapat dimengerti oleh masyarakat. Museum membantu mengintegrasikan perubahan dalam masyarakat dan menciptakan keseimbangan dalam peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan terus melestarikan kepribadian suatu bangsa melalui nilai-nilai dan pola-pola budaya yang terkandung di dalamnya. Di sinilah peran museum yang tidak sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi media untuk menancapkan nilai dan semangat yang mengakar umbi sebagai wadah patriotisme dan nasionalisme yang terancam dengan landaan globalisasi.

Dalam menghadapi krisis global, museum juga harus berani melangkah. Museum seharusnya tidak membatasi diri dengan pengkategorian museum sebagai kebudayaan material yang dimiliki segelintir orang yang menyukai keindahan, tetapi harus mampu mengintegrasikan multidisiplin ilmu dalam menampilkan perkembangan dan keterkaitan kebudayaan masyarakat sesuai dengan ekologi dunia, splendid isolation yang tetap terbungkus menyenangkan . Kompleksitas dalam perkembangan disiplin ilmu harus diakui dan dihadapi dengan bijak. Artinya, perlu pikiran positif untuk mengakui keterkaitan disiplin ilmu satu sama lain sehingga dapat terwujud kerjasama tim yang maksimal, termasuk dalam mengomunikasikan peran dan fungsi museum. Bahkan, tak perlu fobia untuk menerapkan kretaivitas dan menerima inovasi dalam ilmu permuseuman sehingga peran museum sebagai edukasi yang bertanggung jawab bagi suatu bangsa dapat terwujud. Sebagai contoh, pandangan masyarakat terhadap museum yang mencerminkan teknologi tradisional tidak menyangkal adanya teknologi modern dalam perkembangannya. Pengemasan museum yang disesuaikan dengan konteks waktu dan ruang yang tepat dapat membantu meningkatkan pengertian sebagai proses produksi dan pemenuhan kebutuhan dengan menyajikan teknologi baru yang tepat guna yang mendukung terpeliharanya keserasian dalam pembangunan. Di negara maju, seperti negara di kawasan Eropa ataupun Amerika, museum memegang peranan yang berhasil membangkitkan kesadaran yang kolektif dan tindakan kebijaksanaan yang baru terhadap perkembangan industralisasi tetapi tetap mencerminkan keserasian lingkungan.

Tugas museum memang seharusnya dapat membantu proses pembangunan yang tetap bertanggung jawab dengan permasalahan ekologi. Museum harus terus menjadi cermin identitas suatu bangsa dan inspirasi bagi masyarakat. Museum dapat berpera serta secara penuh untuk mengomunikasikan secara efektif pengaruh peradaban manusia bagi ekosistem. Museum harus dapat menjadi proyeksi bagi perkembangan zaman, tetapi tetap menjaga stabilitas dan produktivitas masyarakat. Museum perlu merefleksikan diri sebagai tempat yang menggambarkan pusat penelitian, pusat multi media, dan pusat pendidikan dalam melestarikan kebudayaan masyarakat. Namun, harus diingat bahwa pelaksanaan pendidikan atau process of enculturation di museum tidak dapat dijelaskan secara efektif tanpa kerja sama yang erat dan koordinasi dengan lembaga-lembaga lainnya. Sekali lagi, dalam pelaksanaannya memerlukan integrasi inter-disiplin, program, dan metode. Museum dapat bertindak sebagai fasilitator dan katalisator bagi riset kebudayaan masa lampau sekaligus masa kini di semua ranah, baik lokal, nasional, regional, dan global. Museum integral atau interdisiplin ini tidak untuk mengingkari nilai-nilai museum yang telah ada dan juga tidak meninggalkan prinsip-prinsip museum. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya kemunculan internet justru harus mampu mendukung pemasaran museum sebagai sumber informasi untuk memberi penerangan dalam menyadarkan identitas suatu bangsa yang menghargai hasil karyanya.

Strategi Menyegarkan Museum

Tantangan yang dihadapi untuk membuat museum yang hidup, apalagi “lincah” yang berdendang seirama dengan masyarakat lingkungannya memang tidaklah mudah, tetapi tetap harus dilakukan usaha yang maksimal. Penghayatan falsafi tentang dasar serta tujuan penyelenggaraan dan pengelolaan museum tentu harus diperhatikan dan dipahami secara komprehensif dengan implementasi sikap yang diorientasikan pada kepentingan public, pemahaman dan karakteristik sosial budaya daerah, dan terus up to date dengan seluruh hal yang aktual bagi masyarakat dan lingkungannya serta kajian yang serius dan terus menerus terhadap museum. Hal ini tentu berkait dengan pokok permuseuman, di mana pengelola dan penyelenggaran museum tak lepas dengan museum itu sendiri, museum terkait dengan koleksi, dan koleksi dinikmati oleh publik. Dengan demikian, yang tidak boleh dilupakan dan perlu segera diwujudkan adalah membentuk leadership dalam permuseuman.

Seorang pemimpin dibutuhkan sebagai figur yang mampu menatap masa depan yang mempunyai keberanian mengevaluasi diri untuk menyegarkan museum. Namun, pada hakikatnya kita semualah pemimpin yang termaksud itu, pemimpin yang berkomitmen dengan berkontribusi memasarkan kekayaan milik bangsa. Pemimpin yang sadar menyadarkan betapa penting peran museum sebagai sumber daya potensial memajukan bangsa. Akhirnya, kita semua adalah pemimpin yang harus bertanggungjawab terhadap perkembangan museum yang membutuhkan manajemen yang tepat dan profesionalisme.

Manajemen permuseuman tersebut dapat dilakukan melalui beberapa faktor dasar pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan.

1. Manusia
Manusia sebagai subjek pendukung sekaligus pencipta dan tujuan pemeliharaan kebebasan untuk berkreativitas. Manusia yang berbudaya adalah yang menghindari terkristalnya gaya hidup reifikasi, manipulasi, frgamentasi berlebihan, dan individualisasi berlebihan. Tidak reifikasi, artinya, manusia dalam permuseuman seharusnya tidak mengukur segala sesuatu berdasarkan material semata atau kuantitas saja, tetapi harus mampu dipersiapkan secara kualitas (qualified oriented) dan berorientasi pada tujuan dan masa depan (goal and future oriented). Tidak manipulasi artinya persepsi yang dibangun bukan sekedar peran media mengkontruksikan peranan museum, tetapi timbulnya kesadaran yang mendalam pentingnya keberadaan museum.Tidak fragmentasi berlebihan artinya tidak terjadi kesombongan jika individu mempunyai posisi jabatan, kedudukan, kekuasaan dalam menyelenggarakan dan mengelola museum, tetapi perlu diwujudkan rasa pentingnya belajar teru8s menerus dalam mengembangkan museum. Tidak individualisasi artinya tidak egois dalam membangun dan mengembangkan museum dan tidak serakah atau bertindak dalam pengelolaan museum.

2. Lingkungan
Lingkungan adalah medan mansia berjuang melalui karyanya. Dengan demikian, lingkunggn adalah pendukung keberhasilaan kegiatan pemuseuman.

3. Peralatan
Teknologi harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya agar dapat mendukung kelangsungan kegiatan yang ada di museum dalam mengembangkan museum.

4. Komunitas
Karya manusia ditampung oleh kolektivitas menjadi warisan budaya bersama. Demikian pula dengan karya manusia masa lampau sangat diperlukan suatu kolektif manusia agar karya tersebut dapat dinikmati bersama untuk genberasi sekarang bahkan mendatang. Komunitas yang mencintai museum sangat diperlukan agar warisan budaya tetap lestari.

Review:Museum Masa Kini
Museum dalam masyarakat masa kini adalah fenomena yang kompleks, yaitu museum sebagai medium yang multifungsional. Museum masa kini identik dengan sebuah perusahaan yang dilengkapi sarana dan prasarana. Ruangan koleksi dalam museum perlu dikelola seteliti mungkin dengan perlengkapan teknologi mutakhir di bidang preservasi. Museum masa kini dilengkapi laboratorium konservasi dengan metode penyajian yang masa kini pula. Museum masa kini harus memperhatikan pelbagai metode komunikasi dan pengumpulan data serta penyaluran informasi yang maksimal. Di sini orang di museum harus bicara tentang multifungsi museum dengan metode visualisasi dan interpretasi yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Seperti yang dikatakan oleh ahli museum Amerika Serikat, Paereker, yang menyatakan tugas utama museum untuk menafsirkan manusia, alam, dan hasil karyanya. Hal ini berarti museum berperan dalam membentuk cermin positif kebudayaan dan peradaban manusia. Kegiatan dalam museum masa kini memerlukan kegiatan riset yang merupakan suatu mata rantai yang tidak putus sebagai upaya untuk memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin kepada masyarakat. Museum masakini tidak ada lagi yang merasa dirinya dapat berdiri sendri, tetapi semua museum di seluruh dunia sudah masuk suatu sistem jaringan hubungan kerja sebagai bidang kegiatan edukasi cultural.

Categories
Articles

Sejarah dan Pengertian Urban Farming

Urban Farming sekarang ini tengah menjadi wacana global, seluruh dunia berlomba-lomba menciptakan teknologi urban farming yang murah dan ramah lingkungan.

Bila dilacak sejarahnya urban farming telah hadir sejak Zaman Mesir Kuno. Pada abad ke-19 sebuah konsep kebun individu (allotment garden) di bangun di Jerman dn pada zaman Perang Dunia I dan Perang Dunia II Amerika Serikat dan Inggris mengembangkan Kebun Victoria, kedua gerakan berkebun yang terakhir merupakan gerakan untuk keluar dari kemiskinan akibat perang.

Secara singkat dilihat dari sejarahnya, urban farming memiliki tujuan signifikan yaitu kesadaran akan kelestarian lingkungan seperti konsep pertanian kota di Mesir Kuno. Kemudian juga bertujuan sebagi solusi ketahanan pangan pada masa perang dunia.

Hari ini urban farming kembali menjadi wacana, tidak hanya di kota-kota besar Indonesia, melainkan di dunia yang kita tingagali ini.

Categories
Articles

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!